Penjelasan mengenai Decentralized Autonomous Organization (DAO)
HomeArticles

Penjelasan mengenai Decentralized Autonomous Organization (DAO)

Tingkat Menengah
6mo ago
6m

Daftar isi


Pengantar

Blockchain secara radikal telah mengubah sistem keuangan kita. Namun, properti seperti trustlessness dan immutability tidak hanya berguna dalam aplikasi-aplikasi moneter.

Bidang lain yang siap untuk diubah oleh teknologi ini adalah tata kelola. Blockchain dapat menghadirkan jenis organisasi yang sepenuhnya baru, yang dapat berjalan secara mandiri tanpa perlu koordinasi oleh entitas pusat. Kita akan membahas mengenai seluk-beluk jenis organisasi ini. 


Apa itu DAO dan bagaimana cara kerjanya?

DAO adalah singkatan dari Decentralized Autonomous Organization, yang jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi Organisasi Otonomi Terdesentralisasi. Secara sederhana, DAO merupakan organisasi yang diatur oleh kode dan program komputer. Dengan demikian, organisasi jenis ini memiliki kemampuan untuk berfungsi secara mandiri, tanpa perlu otoritas pusat. 

Melalui penggunaan smart contract, DAO dapat bekerja dengan informasi eksternal dan menjalankan perintah berdasarkan informasi tersebut – semua tanpa campur tangan manusia. DAO biasanya dioperasikan oleh komunitas pemangku kepentingan yang diberi insentif melalui semacam mekanisme token. 

Aturan dan catatan transaksi DAO disimpan secara transparan di blockchain. Aturan umumnya diputuskan oleh suara para stakeholder. Biasanya, cara pengambilan keputusan dalam DAO adalah melalui proposal. Jika sebuah proposal dipilih oleh mayoritas stakeholder (atau memenuhi beberapa aturan lain yang ditetapkan dalam aturan konsensus jaringan), maka proposal tersebut akan dilaksanakan.   

Dalam beberapa hal, DAO bekerja serupa dengan korporasi atau negara-kebangsaan (nation-state), tetapi DAO beroperasi dengan cara yang lebih terdesentralisasi. Sementara organisasi tradisional bekerja dengan struktur hierarkis dan banyak lapisan birokrasi, DAO tidak memiliki hierarki. Sebaliknya, DAO menggunakan mekanisme ekonomi untuk menyelaraskan kepentingan organisasi dengan kepentingan anggotanya, biasanya melalui penggunaan game theory.

Anggota DAO tidak terikat oleh kontrak formal apa pun. Mereka lebih terikat oleh tujuan bersama, dan insentif jaringan terkait dengan aturan konsensus. Aturan-aturan ini sepenuhnya transparan dan ditulis dalam perangkat lunak open-source yang mengatur organisasi. Karena beroperasi tanpa batas, DAO tunduk pada yurisdiksi hukum yang berbeda. 

Seperti namanya, DAO bersifat terdesentralisasi dan otonom. Terdesentralisasi, karena tidak ada satu entitas yang memiliki wewenang untuk membuat dan menegakkan keputusan. Otonom, karena dapat menjalankan fungsinya sendiri. 

Jika DAO diterapkan, maka tidak ada satu pihak pun yang dapat mengontrol, semua diatur oleh peserta komunitas. Jika aturan tata kelola yang ditentukan dalam protokol dirancang dengan baik, maka aturan tersebut akan mengarah ke hasil yang paling menguntungkan bagi jaringan.

Sederhananya, DAO menyediakan sistem operasi untuk kolaborasi terbuka. Sistem operasi ini memungkinkan individu dan institusi untuk berkolaborasi tanpa harus mengenal atau percaya satu sama lain. 


DAO dan masalah principal-agent

DAO mengatasi masalah di bidang ekonomi yang disebut dilema principal-agent. Itu terjadi ketika seseorang atau entitas (“agen”) memiliki kemampuan untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan atas nama orang atau entitas lain (“prinsipal”). Jika agen termotivasi untuk bertindak demi kepentingannya sendiri, ia dapat dengan mudah mengabaikan kepentingan principal.

Situasi ini memungkinkan agen untuk mengambil risiko atas nama principal. Yang memperdalam masalah adalah bahwa mungkin juga terdapat asimetri informasi antara principal dan agen. Principal mungkin tidak pernah tahu bahwa ia sedang dimanfaatkan, dan tidak memiliki cara untuk memastikan bahwa agen bertindak demi kepentingan terbaik mereka.

Contoh umum masalah ini adalah pejabat terpilih yang mewakili warga negara, pialang mewakili investor, atau manajer yang mewakili pemegang saham.

Dengan tingkat transparansi yang ditawarkan blockchain, model insentif yang dirancang dengan baik di balik DAO dapat memecahkan masalah ini. Insentif dalam organisasi selaras, dan sangat sedikit (atau tidak ada) asimetri informasi. Karena semua transaksi dicatat pada blockchain, operasi DAO sepenuhnya transparan, dan, secara teori, tidak dapat dirusak.


Contoh DAO

Meskipun sangat primitif, jaringan Bitcoin dapat dianggap sebagai contoh pertama DAO. Jaringan ini beroperasi secara terdesentralisasi dan dikoordinasikan oleh protokol konsensus tanpa hirarki antara peserta. 

Protokol Bitcoin menetapkan aturan organisasi, sementara bitcoin sebagai mata uang memberikan insentif bagi pengguna untuk mengamankan jaringan. Memastikan bahwa para peserta yang berbeda dapat bekerja bersama untuk menjaga Bitcoin berjalan sebagai organisasi otonom yang terdesentralisasi.

Dalam hal Bitcoin, tujuan umum adalah menyimpan dan mentransfer nilai tanpa entitas sentral yang mengoordinasikan sistem. Lalu, apakah DAO memiliki manfaat lainnya?

DAO yang lebih kompleks memiliki berbagai penggunaan, seperti tata kelola token, dana ventura terdesentralisasi, atau platform media sosial. DAO juga dapat mengoordinasikan pengoperasian perangkat yang terhubung ke Internet of Things (IoT).

Selain itu, inovasi-inovasi ini memperkenalkan bagian DAO yang disebut Decentralized Autonomous Corporation (DAC). DAC dapat menyediakan layanan serupa dengan perusahaan tradisional, misalnya, layanan ridesharing. Perbedaannya, DAC bekerja tanpa struktur tata kelola perusahaan yang ditemukan dalam bisnis tradisional.

Misalnya, sebuah mobil mandiri yang menyediakan layanan ridesharing, sebagai bagian dari DAC dapat beroperasi secara mandiri, melakukan transaksi dengan manusia dan perangkat lain. Melalui penggunaan oracle blockchain, bahkan dapat memicu smart contract untuk melakukan sendiri tugas tertentu, seperti memeriksakan diri ke mekanik.


Ethereum dan “The DAO”

Salah satu contoh awal dari DAO adalah “The DAO”. Terdiri dari smart contract kompleks yang dijalankan di atas blockchain Ethereum yang dimaksudkan untuk bertindak sebagai pendanaan ventura otonom.

Token DAO dijual dalam Initial Coin Offering (ICO), memberikan hak kepemilikan dan hak suara dalam pendanaan terdesentralisasi ini. Namun, tak lama setelah diluncurkan, sekitar sepertiga dana terkuras, disebabkan oleh salah satu peretasan terbesar dalam sejarah mata uang kripto.

Peristiwa ini mengakibatkan Ethereum terbagi menjadi dua chain mengikuti proses hard fork. Dalam chain pertama, transaksi penipuan secara efektif berhasil dibalikkan, seolah peretasan tidak pernah terjadi. Chain ini sekarang disebut dengan blockchain Ethereum. Chain kedua, mematuhi prinsip “kode adalah hukum”, membiarkan transaksi penipuan tidak tersentuh dan mempertahankan sifat immutability. Blockchain ini sekarang disebut dengan Ethereum Classic.



Anda ingin memiliki mata uang kripto? Beli Bitcoin di Binance!



Masalah apa yang dihadapi DAO?

Peraturan hukum mengenai DAO sepenuhnya tidak pasti. Belum ada yang tahu bagaimana yuridiksi yang berbeda akan menetapkan regulasi terhadap jenis organisasi baru ini. Lanskap peraturan yang terus menerus tidak jelas bisa jadi penghalang yang signifikan terhadap adopsi DAO.


Serangan terkoordinasi

Sifat-sifat DAO yang diinginkan (desentralisasi, immutability, dan trustlessness) secara inheren membawa kelemahan yang besar di sisi kinerja dan keamanan. Walaupun terdapat beberapa organisasi menarik yang berpotensi sebagai DAO, sayangnya organisasi ini juga membawa banyak risiko yang tidak ditemukan dalam organisasi tradisional.


Titik sentralisasi

Dapat dikatakan bahwa desentralisasi bukanlah suatu keadaan, melainkan suatu kisaran atau range, di mana setiap level cocok dengan jenis penggunaan yang berbeda. Dalam beberapa kasus, otonomi penuh atau desentralisasi bahkan mungkin adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

DAO memungkinkan peserta yang lebih luas untuk berkolaborasi, tetapi aturan tata kelola yang ditetapkan dalam protokol akan selalu menjadi titik sentralisasi. Mungkin akan ada yang berargumen bahwa organisasi tradisonal atau tersentralisasi beroperasi jauh lebih efisien – ini dengan mengabaikan sifat partisipasi terbuka DAO.


Penutup

DAO memungkinkan organisasi untuk melepaskan diri dari ketergantungan pada lembaga tradisional. Alih-alih entitas sentral yang mengendalikan peserta, aturan tata kelola bekerja secara otomatis untuk mengarahkan partisipan ke hasil yang paling menguntungkan bagi jaringan.

Jaringan Bitcoin dapat dianggap sebagai DAO yang disederhanakan. Kunci untuk merancang DAO yang baik adalah meletakkan seperangkat aturan konsensus yang efisien untuk menyelesaikan masalah koordinasi peserta yang kompleks. Tantangan nyata yang dihadapi dalam mengimplementasikan DAO mungkin malahan bukan teknologi, melainkan sosial.

Jika Anda ingin mempelajari lebih lanjut mengenai DAO, Anda dapat membaca laporan Binance Research yang berjudul Theory and Praxis of DAOs.