Apa Itu Pool Likuiditas dalam DeFi dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Apa Itu Pool Likuiditas dalam DeFi dan Bagaimana Cara Kerjanya?
BerandaArtikel

Apa Itu Pool Likuiditas dalam DeFi dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Tingkat Menengah
Published Dec 14, 2020Updated Jun 25, 2021
7m
TL;DR
Pool likuiditas merupakan salah satu teknologi dasar di balik ekosistem DeFi saat ini, berperan sebagai bagian penting dalam pembuat pasar otomatis atau automated market maker (AMM), protokol pinjam-meminjamkan, yield farming, aset sintetis, asuransi on-chain, gaming blockchain – dan masih banyak lagi, daftarnya akan terus berlanjut.

Jika berdiri sendiri, idenya sangat sederhana. Pool likuiditas pada dasarnya adalah dana yang disatukan dalam tumpukan besar di dunia digital. Apa yang dapat Anda lakukan dengan tumpukan ini di lingkungan bersifat permissionless, di mana siapa pun dapat menambahkan likuiditas ke dalamnya? Mari kita telusuri bagaimana DeFi menerapkan gagasan pool likuiditas.


Pengantar

Keuangan Terdesentralisasi atau Decentralized Finance (DeFi)  telah menciptakan ledakan aktivitas on-chain. Volume DEX sekarang dapat bersaing dengan volume di bursa tersentralisasi. Pada Desember 2020, ada hampir 15 miliar dolar nilai terkunci dalam protokol DeFi. Ekosistem berkembang pesat dengan berbagai jenis produk baru.

Tapi apa yang membuat semua ekspansi ini mungkin terjadi? Salah satu teknologi inti di balik semua produk-produk ini adalah pool likuiditas.


Apa itu pool likuiditas?

Pool likuiditas adalah kumpulan dana yang terkunci dalam smart contract. Pool likuiditas digunakan untuk memfasilitasi trading yang terdesentralisasi, lending, dan banyak lagi fungsi lainnya yang akan kita bahas nanti.

Pool likuiditas merupakan tulang punggung kebanyakan bursa terdesentralisasi (DEX), seperti Uniswap. Pengguna yang disebut penyedia likuiditas (LP) menambahkan nilai yang sama dari dua token dalam satu pool untuk menciptakan pasar. Sebagai imbalan atas penyediaan dana, mereka memperoleh bagian dari biaya perdagangan yang terjadi di pool yang bersangkutan, sebanding dengan bagian mereka dari total likuiditas.

Karena siapa pun dapat menjadi penyedia likuiditas, AMM telah menjadikan pasar lebih mudah diakses.

Salah satu protokol pertama yang menggunakan pool likuiditas adalah Bancor, tetapi konsep ini mendapat perhatian lebih karena kepopuleran Uniswap. Beberapa bursa populer lainnya yang menggunakan pool likuiditas di Ethereum di antaranya SushiSwapCurve, dan Balancer. Pool likuiditas di tempat-tempat ini berisi token-token ERC-20. Bursa serupa di Binance Smart Chain (BSC) adalah PancakeSwapBakerySwap, dan BurgerSwap, di mana pool-pool berisi token-token BEP-20.


Pool likuiditas vs. order book

Untuk memahami perbedaan pool likuiditas, mari kita lihat bagian fundamental dari trading elektronik – order book. Sederhananya, order book adalah kumpulan order yang saat ini terbuka untuk pasar.

Sistem yang mencocokkan order satu dengan order yang lain disebut mesin pencocokan. Bersama dengan mesin pencocokan, order book adalah inti dari setiap bursa tersentralisasi (CEX). Model ini sangat berguna untuk memfasilitasi pertukaran yang efisien dan memungkinkan terciptanya pasar keuangan yang kompleks.
Namun, di dalam trading DeFi melibatkan eksekusi secara on-chain, tanpa pihak terpusat yang memegang dana. Ini akan menimbulkan masalah dalam order book. Setiap interaksi dengan order book membutuhkan biaya gas, yang membuat transaksi jauh lebih mahal untuk mengeksekusi trading.
Ini juga membuat pekerjaan pembuat pasar atau market maker, pedagang yang menyediakan likuiditas untuk pasangan trading, sangat mahal. Namun yang terpenting, sebagian besar blockchain tidak mampu menangani throughput yang diperlukan untuk berdagang miliaran dolar setiap hari.
Ini berarti bahwa di blockchain seperti Ethereum, bursa order book on-chain secara praktis tidak mungkin. Anda bisa menggunakan solusi sidechain atau layer-2, dan ini masih sedang dikembangkan. Namun, jaringan tidak mampu menangani throughput dalam bentuknya saat ini.
Sebelum melangkah lebih jauh, perlu diperhatikan bahwa ada DEX yang berfungsi baik dengan order book on-chain. Binance DEX dibangun di atas Binance Chain, dan dirancang khusus untuk trading yang cepat dan murah. Contoh lainnya adalah Project Serum yang dibangun di atas blockchain Solana.
Meski begitu, karena sebagian besar aset di dunia kripto ada di Ethereum, Anda tidak dapat memperdagangkannya di jaringan lain kecuali jika Anda menggunakan semacam jembatan cross-chain.


Bagaimana cara kerja pool likuiditas?

Pembuat pasar otomatis atau automated market maker (AMM) telah mengubah permainan ini. AMM merupakan inovasi besar yang memungkinkan berlangsungnya trading on-chain tanpa perlu order book. Karena tidak ada lawan transaksi langsung yang diperlukan untuk mengeksekusi trading, pedagang dapat masuk dan keluar dari posisi pasangan token yang kemungkinan akan sangat tidak likuid di bursa order book.

Anda bisa menganggap bursa order book seperti peer-to-peer, di mana pembeli dan penjual terhubung oleh order book. Contohnya, trading di Binance DEX adalah peer-to-peer karena trading terjadi langsung di antara wallet pengguna.
AMM sedikit berbeda. Anda dapat menganggap trading di AMM sebagai trading peer-to-contract.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, pool likuiditas adalah sekumpulan dana yang disimpan ke dalam smart contract oleh penyedia likuiditas. Saat Anda melakukan trading di AMM, Anda tidak memiliki lawan transaksi dalam pengertian tradisional. Sebaliknya, Anda melakukan trading dengan likuiditas di dalam pool likuiditas. Agar pembeli dapat membeli, tidak perlu ada penjual pada saat itu, cukup likuiditas di dalam pool.

Saat Anda membeli koin makanan terbaru di Uniswap, tidak ada penjual dalam pengertian tradisional. Sebaliknya, aktivitas Anda dikelola oleh algoritme yang mengatur semua yang terjadi di dalam pool. Selain itu, penetapan harga juga ditentukan oleh algoritme ini berdasarkan trading yang terjadi di dalam pool. Jika Anda ingin mengetahui lebih dalam mengenai cara kerjanya, baca artikel AMM kami.

Tentu saja, likuiditas harus berada di salah satu sisi, pembeli atau penjual, dan siapa pun dapat menjadi penyedia likuiditas, sehingga mereka dapat dipandang sebagai lawan transaksi Anda. Namun, ini tidak sama dengan model order book, karena dalam AMM, Anda berinteraksi dengan kontrak yang mengatur pool tersebut.


Apa manfaat pool likuiditas?

Sejauh ini, kita kebanyakan membahas AMM, yang merupakan penggunaan pool likuiditas paling populer. Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mengumpulkan likuiditas adalah konsep yang sangat sederhana, sehingga dapat digunakan dengan berbagai cara.

Salah satunya adalah yield farming atau liquidity mining. Pool likuiditas adalah dasar dari platform penghasil yield otomatis seperti yearn, di mana pengguna menambahkan dana mereka ke dalam pool yang kemudian digunakan untuk menghasilkan yield.

Mendistribusikan token baru di tangan orang yang tepat adalah masalah yang sangat sulit bagi proyek kripto. Liquidity mining merupakan salah satu pendekatan yang cukup sukses. Pada dasarnya, token didistribusikan secara algoritmik kepada pengguna yang memasukkan token mereka ke dalam pool likuiditas. Kemudian, token yang baru dibuat didistribusikan secara proporsional ke setiap bagian pengguna di dalam pool tersebut.

Namun, harap diingat; ini bahkan bisa berupa token dari pool likuiditas lain yang disebut token pool. Misalnya, jika Anda menyediakan likuiditas ke dalam Uniswap atau meminjamkan dana ke Compound, Anda akan mendapatkan token yang mewakili bagian Anda di dalam pool. Anda mungkin bisa menyetor token tersebut ke pool lain untuk menghasilkan laba. Rantai ini bisa sangat rumit, karena protokol mengintegrasikan token pool dari protokol lain ke dalam produk mereka, dan seterusnya.

Kita juga bisa memandang tata kelola sebagai use case. Dalam beberapa kasus, ada ambang batas token yang sangat tinggi, yang dibutuhkan untuk melakukan voting dalam mengajukan proposal tata kelola formal. Jika dana dikumpulkan bersama-sama, para peserta bisa bersatu di belakang tujuan bersama yang mereka anggap penting untuk protokol.

Sektor DeFi lain yang muncul adalah asuransi terhadap risiko smart contract. Banyak dari implementasinya juga didukung oleh pool likuiditas.

Penggunaan pool likuiditas lainnya yang bahkan lebih canggih adalah tranching. Ini adalah konsep yang dipinjam dari keuangan tradisional yang melibatkan pembagian produk keuangan berdasarkan risiko dan laba. Anda mungki sudah tahu, produk ini memungkinkan LP untuk memilih profil risiko dan laba yang disesuaikan.
Mencetak aset sintetis di blockchain juga bergantung pada pool likuiditas. Tambahkan sejumlah jaminan ke dalam pool likuiditas, hubungkan ke oracle tepercaya, dan Anda akan mendapatkan token sintetis yang dipatok ke aset apa pun yang Anda inginkan. OK, pada kenyataannya, ini masalah yang lebih rumit dari itu, tapi ide dasarnya sesederhana itu.

Apa lagi yang lain? Mungkin masih banyak lagi kegunaan pool likuiditas yang belum terungkap, semuanya tergantung pada kecerdasan para pengembang DeFi.



Risiko pool likuiditas

Jika Anda menyediakan likuiditas ke dalam AMM, Anda harus mengetahui konsep yang disebut kerugian tidak permanen. Singkatnya, kerugian tidak permanen adalah kerugian dalam nilai dolar dibandingkan dengan HODLing selama Anda menyediakan likuiditas.
Jika Anda menyediakan likuiditas ke dalam AMM, Anda berisiko mengalami kerugian tidak permanen. Terkadang bisa dalam jumlah kecil; terkadang bisa sangat besar. Pastikan untuk membaca artikel kami mengenai topik ini jika Anda mempertimbangkan untuk menyetorkan dana ke dalam pool likuiditas dua sisi.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah risiko smart contract. Saat Anda menyetor dana ke dalam pool likuiditas, dana tersebut berada di pool. Jadi, meskipun secara teknis tidak ada perantara yang menahan dana Anda, kontrak itu sendiri dapat dianggap sebagai kustodian atas dana tersebut. Misalkan, jika ada bug atau semacam exploit melalui flash loan, dana Anda bisa hilang selamanya.
Selain itu, berhati-hatilah dengan proyek yang pengembangnya memiliki izin untuk mengubah aturan yang mengendalikan pool. Terkadang, pengembang bisa saja memiliki kunci admin atau beberapa akses istimewa lainnya dalam kode smart contract. Ini bisa memungkinkan mereka untuk berpotensi melakukan hal-hal yang berbahaya, seperti mengambil kendali atas dana di dalam pool. Baca artikel penipuan DeFi kami untuk menghindari rug pull dan exit scam sebaik mungkin.


Konklusi

Pool likuiditas merupakan salah satu teknologi inti di balik tumpukan teknologi DeFi saat ini. Platform ini memungkinkan terjadinya trading terdesentralisasi, lending, yield farming, dan masih banyak lagi. Smart contract di dalamnya adalah sumber energi bagi hampir semua bagian DeFi.

Anda masih memiliki pertanyaan mengenai pool likuiditas dan Decentralized Finance? Lihat platform tanya jawab kami, Ask Academy, tempat komunitas akan menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda.