Bitcoin dan Model Stock to Flow
Bitcoin dan Model Stock to Flow
BerandaArtikel

Bitcoin dan Model Stock to Flow

Tingkat Menengah
Published Apr 13, 2020Updated Apr 29, 2021
6m

Apa itu model Stock to Flow?

Dalam istilah sederhana, model Stock to Flow (SF atau S2F) merupakan satu cara untuk mengukur banyaknya persediaan sumber daya tertentu. Rasio Stock to Flow adalah jumlah sumber daya yang disimpan dalam cadangan dibagi dengan jumlah yang diproduksi setiap tahunnya.

Model Stock to Flow umumnya diterapkan pada sumber daya alam. Mari melihat salah satu contohnya: emas. Walaupun estimasi bisa berbeda-beda, World Gold Council memperkirakan bahwa sekitar 190.000 ton emas sudah ditambang. Jumlah ini (total pasokan) dapat kita sebut sebagai stock. Sementara itu, ada sekitar 2.500-3.200 ton emas yang ditambang setiap tahun. Jumlah ini kita sebut sebagai flow.

Kita dapat menghitung rasio Stock to Flow menggunakan kedua metrik ini. Namun, apa sebenarnya artinya? Pada dasarnya, ini menunjukkan seberapa banyak persediaan yang memasuki pasar setiap tahun dari sumber daya tertentu jka dibandingkan dengan total pasokan. Semakin tinggi rasio Stock to Flow, semakin kecil pasokan baru yang memasuki pasar. Dengan demikian, aset dengan rasio Stock to Flow yang lebih tinggi, secara teori, mempertahankan nilainya dengan sangat baik dalam jangka panjang.

Di sisi lain, barang-barang konsumsi dan komoditas industri biasanya akan memiliki rasio Stock to Flow yang rendah. Mengapa demikian? Karena nilai barang-barang tersebut dikonsumsi atau hancur, persediaan (stock) biasanya ada untuk memenuhi permintaan. Sumber daya ini tidak memiliki nilai yang tinggi sebagai harta milik, sehingga tidak cocok dijadikan sebagai aset investasi. Dalam beberapa kasus luar biasa, harga mungkin akan naik dengan cepat jika ada antisipasi kekurangan di masa depan, namun, pada umumnya, produksi akan terus mengikuti permintaan.

Sangat penting untuk diperhatikan bahwa sifat langka tidak serta-merta berarti sumber daya akan berharga. Contohnya, emas, sebenarnya tidak langka, ada 190.000 ton tersedia! Rasio Stock to Flowlah yang menunjukkan bahwa barang ini berharga, karena produksi tahunan dibandingkan dengan pasokan yang ada relatif kecil atau konstan.


Berapa rasio Stock to Flow emas?

Secara historis, emas memiliki rasio Stock to Flow tertinggi dibanding logam mulia lainnya. Seberapa tinggi? Kembali ke contoh sebelumnya – mari kita bagikan total pasokan 190.000 ton dengan 3.200, kita akan mendapatkan rasio Stock to Flow ~59. Ini berarti bahwa pada tingkat produksi saat ini, akan dibutuhkan sekitar 59 tahun untuk menambang 190.000 ton emas.
Namun, perlu dicatat bahwa estimasi berapa banyak emas baru akan ditambang setiap tahun – benar-benar hanya estimasi. Jika kita meningkatkan produksi tahunan (flow) menjadi 3.500, rasio Stock to Flow akan menurun menjadi ~54.
Karena sekarang kita sedang membahas ini, mengapa tidak sekalian juga menghitung total nilai semua emas yang pernah ditambang? Ini bisa dibandingkan dengan kapitalisasi pasar mata uang kripto. Jika kita mengambil harga $1500 per troy ons emas, total nilai semua emas mencapai kira-kira $9 triliun. Kedengarannya sangat banyak, namun sebenarnya, jika Anda menggabungkan semua menjadi satu potongan, Anda dapat memasukkan potongan tersebut ke dalam satu stadion sepak bola!
Jika dibandingkan dengan Bitcoin, total nilai tertinggi jaringan Bitcoin mencapai kira-kira $300 miliar di akhir tahun 2017 dan bergerak di sekitar $120 miliar pada saat artikel ini ditulis.


Stock to Flow dan Bitcoin

Jika mengetahui cara kerja Bitcoin, akan mudah juga bagi Anda untuk mengerti mengapa menerapkan Stock to Flow ke jaringan ini sangat masuk akal. Model ini pada dasarnya memperlakukan bitcoin sebagai komoditas langka, seperti emas dan perak.
Emas dan perak sering disebut sebagai sumber daya penyimpan nilai atau store of value. Dalam teori, keduanya dapat mempertahankan nilai dalam jangka panjang karena kelangkaan dan rendahnya produksi. Selain itu, sangat sulit untuk meningkatkan pasokan secara signifkan dalam waktu yang singkat.
Menurut pendukung model Stock to Flow, Bitcoin adalah sumber daya yang serupa. Langka, relatif mahal untuk diproduksi, dan persediaan maksimumnya dibatasi hingga 21 juta koin. Juga, penerbitan pasokan Bitcoin ditentukan pada tingkat protokol, yang membuat produksi sepenuhnya dapat diprediksi. Anda juga mungkin pernah mendengar tentang Bitcoin halving, di mana jumlah pasokan baru yang memasuki sistem dibelah dua setiap 210.000 blok (kira-kira empat tahun).


Total Pasokan BTC yang Ditambang (%) dan Subsidi Blok (BTC).


Menurut para pendukung model ini, jika sifat-sifat tersebut digabungkan, akan menciptakan sumber daya digital yang langka dengan karakteristik yang sangat menarik untuk mempertahankan nilai dalam jangka panjang. Selain itu, mereka menganggap bahwa ada hubungan yang kuat secara statistik antara Stock to Flow dan nilai pasar. Menurut proyeksi model, harga Bitcoin akan mengalami peningkatan yang signifikan dari waktu ke waktu karena rasio Stock to Flow yang terus berkurang.

Menerapkan model Stock to Flow ke Bitcoin sering dikaitkan dengan PlanB dan artikelnya yang berjudul Modeling Bitcoin’s Value with Scarcity.


Berapa rasio Stock to Flow Bitcoin?

Pasokan beredar Bitcoin saat ini adalah 18 juta bitcoin, sementara persediaan baru kira-kira 0,7 juta per tahun. Pada saat penulisan, rasio Stock to Flow Bitcoin bergerak di sekitar 25. Setelah halving berikutnya di Mei 2020, rasio akan meningkat ke angka 50-an.
Dalam gambar di bawah, Anda dapat melihat hubungan historis moving average selama 365 hari antara Stock to Flow Bitcoin dengan harganya. Juga ditunjukkan saat-saat Bitcoin halving pada sumbu vertikal.


Model Stock-to-Flow Bitcoin. Sumber: LookIntoBitcoin.com




Anda ingin memiliki mata uang kripto? Beli Bitcoin di Binance!




Kelemahan model Stock to Flow

Meskipun Stock to Flow adalah model yang menarik untuk mengukur kelangkaan, namun tidak memperhitungkan secara lengkap. Model hanya sekuat asumsi yang diberikannya. Stock to Flow bergantung pada asumsi bahwa kelangkaan, sebagaimana diukur oleh model, akan mendorong nilai. Menurut para penentang Stock to Flow, model ini gagal jika Bitcoin tidak memiliki kualitas berguna lainnya selain kelangkaan pasokan.

Kelangkaan emas, produksi yang dapat diprediksi, dan likuiditas global, telah membuatnya menjadi penyimpan nilai yang relatif stabil dibandingkan dengan mata uang fiat, yang rentan terhadap devaluasi.

Berdasarkan model ini, volatilitas Bicoin juga seharusnya akan menurun dari waktu ke waktu. Ini dikonfirmasi dengan data historis dari Coinmetrics.


 
200 hari Moving Average dari 180 hari Volatilitas Bitcoin. Sumber: Coinmetrics.io


Penilaian suatu aset mensyaratkan perhitungan volatilitas. Jika volatilitas dapat diprediksi sampai batas tertentu, model penilaian akan lebih dapat diandalkan. Namun, Bitcoin terkenal dengan pergerakan harganya yang besar.

Sementara volatilitas mungkin menurun pada tingkat makro, Bitcoin telah dihargai di pasar bebas sejak awal. Ini berarti bahwa harga sebagian besar diatur sendiri di pasar terbuka oleh pengguna, pedagang, dan spekulan. Jika itu semua digabungkan dengan likuiditas yang relatif rendah, Bitcoin cenderung lebih rentan terhadap lonjakan volatilitas mendadak dibanding aset lainnya. Model juga mungkin tidak dapat menjelaskan ini.
Faktor eksternal lainnya, seperti peristiwa Black Swan dalam ekonomi, juga dapat merusak model ini. Memang perlu dicatat, bahwa hal yang sama berlaku pada setiap model yang mencoba memprediksi harga suatu aset berdasarkan data historis. Peristiwa Black Swan, menurut definisi, memiliki unsur kejutan. Data historis tidak dapat menjelaskan peristiwa yang tidak diketahui.


Penutup

Model Stock to Flow mengukur hubungan antara pasokan sumber daya yang tersedia saat ini dan tingkat produksinya. Biasanya diterapkan pada logam mulia dan komoditas lainnya, namun beberapa orang berpendapat bahwa ini berlaku untuk Bitcoin juga. 

Dalam hal ini, Bitcoin dapat dipandang sebagai sumber daya digital yang langka. Menurut metode analisis ini, proposisi unik Bitcoin dapat menjadikannya aset yang mempertahankan nilai dalam jangka panjang. 

Namun, setiap model hanyalah sekuat asumsi yang dihasilkan, dan mungkin tidak dapat menjelaskan semua aspek penilaian Bitcoin. Terlebih lagi, pada saat penulisan, Bitcoin masih berumur sepuluh tahun. Beberapa orang berpendapat bahwa model penilaian jangka panjang seperti Stock to Flow membutuhkan kumpulan data yang lebih besar untuk akurasi yang lebih andal.