Apa Itu Stagflasi?
Daftar Isi
Pendahuluan
Apa itu stagflasi?
Stagflasi vs. inflasi
Mengapa stagflasi terjadi?
Bagaimana cara mengatasi stagflasi?
Bagaimana pengaruh stagflasi terhadap pasar kripto?
Stagflasi dalam krisis minyak tahun 1973
Kesimpulan
Apa Itu Stagflasi?
BerandaArtikel
Apa Itu Stagflasi?

Apa Itu Stagflasi?

Pemula
Diterbitkan May 20, 2022Diperbarui Jun 8, 2022
7m

TL;DR

Stagflasi terjadi ketika ekonomi mengalami tingkat pengangguran tinggi disertai stagnasi atau pertumbuhan negatif (resesi) dan kenaikan harga (inflasi). Terdapat strategi baik itu untuk mengatasi resesi maupun inflasi, tetapi karena keduanya memiliki dampak yang berlawanan, kombinasi keduanya menyebabkan stagflasi sulit untuk dikendalikan.


Pendahuluan

Pada satu sisi, stagnasi ekonomi atau pertumbuhan negatif dapat diatasi dengan meningkatkan pasokan uang agar perusahaan dapat meminjam uang dengan lebih murah (suku bunga lebih rendah). Makin banyak uang menyebabkan ekspansi dan tingkat pekerjaan yang lebih tinggi. Hal ini dapat mencegah atau mengatasi resesi dengan efektif.

Sebaliknya, para ekonom dan pembuat kebijakan sering kali berupaya untuk mengendalikan kenaikan inflasi dengan mengurangi pasokan uang untuk memperlambat ekonomi. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan suku bunga, sehingga meminjam uang menjadi lebih mahal. Bisnis dan konsumen meminjam dan berbelanja lebih sedikit. Permintaan yang menurun menyebabkan harga berhenti naik.

Namun, ketika ekonomi mengalami stagflasi, terjadi dua hal yang sama-sama buruk: resesi yang dikombinasi dengan inflasi tinggi. Mari kita dalami untuk memahami definisi stagflasi, penyebab umumnya, dan kemungkinan solusinya.


Apa itu stagflasi?

Stagflasi adalah konsep makroekonomi yang pertama kali disebutkan pada tahun 1965 oleh Iain Macleod, yaitu seorang politisi Inggris dan Menteri Keuangan. Nama ini merupakan gabungan dari stagnasi dan inflasi yang menggambarkan kondisi di mana ekonomi mengalami pertumbuhan minim atau negatif dan pengangguran tinggi yang disertai dengan kenaikan harga konsumen (inflasi).

Pengendalian ekonomi umum yang digunakan untuk mengatasi masing-masing kondisi dapat memperburuk kondisi lainnya, sehingga stagflasi sulit ditangani oleh pemerintah atau bank sentral. Biasanya, tingkat pekerjaan yang tinggi dan pertumbuhan yang positif berkaitan dengan inflasi. Namun, stagflasi adalah hal yang berbeda. 

Pertumbuhan ekonomi sering kali diukur oleh produk domestik bruto (PDB) sebuah negara yang berkaitan langsung dengan tingkat pekerjaan. Ketika PDB tidak baik dan inflasi meningkat, stagflasi yang parah dapat menyebabkan krisis keuangan yang lebih luas.


Stagflasi vs. inflasi

Seperti yang disebutkan, stagflasi adalah kombinasi dari inflasi dan stagnasi ekonomi atau pertumbuhan negatif. Meskipun terdapat berbagai definisi, inflasi sering kali diartikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa. Kita juga dapat menjelaskan inflasi sebagai penurunan daya beli sebuah mata uang. 


Mengapa stagflasi terjadi?

Singkatnya, stagflasi terjadi ketika daya beli uang menurun bersamaan dengan pelambatan ekonomi serta penurunan pasokan barang dan jasa. Penyebab persisnya dari stagflasi bervariasi tergantung pada konteks historis dan berbagai pandangan ekonomi. Terdapat berbagai teori dan opini yang menjelaskan stagflasi dengan cara yang berbeda-beda, termasuk monetaris, Keynesian, dan model klasik baru. Mari kita lihat beberapa contohnya.

Kebijakan moneter dan fiskal yang bertentangan

Bank sentral seperti US Federal Reserve mengelola pasokan uang untuk memengaruhi ekonomi. Pengendalian ini disebut dengan kebijakan moneter. Pemerintah juga langsung memengaruhi ekonomi dengan kebijakan belanja dan pajak yang disebut dengan kebijakan fiskal. Namun, kombinasi yang bertentangan antara kebijakan fiskal dan moneter dapat menyebabkan inflasi yang tidak terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang lambat. Kombinasi kebijakan yang mengurangi pengeluaran konsumen sambil meningkatkan pasokan uang pada akhirnya dapat menyebabkan stagflasi.
Misalnya, pemerintah dapat menaikkan pajak sehingga penduduk memiliki lebih sedikit pendapatan yang dapat dibelanjakan. Di saat yang sama, bank sentral dapat melaksanakan pelonggaran kuantitatif/quantitative easing ("mencetak uang") atau mengurangi suku bunga. Kebijakan pemerintah akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan, sedangkan bank sentral meningkatkan pasokan uang. Hal ini sering kali menyebabkan stagflasi.

Pengantar mata uang fiat

Sebelumnya, sebagian besar ekonomi utama mematok mata uang mereka dengan sejumlah emas. Mekanisme ini dikenal sebagai standar emas, tetapi telah banyak ditinggalkan setelah Perang Dunia II. Standar emas dihapus dan diganti dengan mata uang fiat yang menghilangkan batasan terhadap pasokan uang. Meskipun hal ini dapat memfasilitasi pekerjaan bank sentral dalam mengendalikan ekonomi, terdapat juga risiko tingkat inflasi menjadi terganggu yang dapat menyebabkan kenaikan harga.

Kenaikan biaya pasokan

Kenaikan biaya produksi barang dan jasa yang signifikan juga dapat menyebabkan stagflasi. Hubungan ini sangat nyata untuk energi dan disebut sebagai guncangan pasokan. Konsumen juga terdampak oleh kenaikan harga energi yang biasanya berasal dari harga minyak.

Jika barang memerlukan biaya yang lebih besar untuk diproduksi dan harganya naik, sedangkan konsumen memiliki lebih sedikit pendapatan yang dapat dibelanjakan karena biaya pemanasan, transportasi, dan biaya lain terkait energi, stagflasi cenderung akan terjadi.


Bagaimana cara mengatasi stagflasi?

Stagflasi dapat diatasi dengan kebijakan fiskal dan moneter. Namun, kebijakan persisnya yang diberlakukan bergantung pada setiap aliran ekonomi. 

Monetaris

Monetaris (ekonom yang meyakini bahwa mengendalikan pasokan uang adalah kunci utama) akan berpendapat bahwa inflasi merupakan faktor terpenting yang harus dikendalikan. 

Dalam skenario ini, monetaris akan mengurangi pasokan uang terlebih dahulu yang akan mengurangi keseluruhan pembelanjaan. Hal ini menyebabkan permintaan yang lebih sedikit serta penurunan harga barang dan jasa. Namun, kelemahannya adalah kebijakan ini tidak mendorong pertumbuhan. Masalah pertumbuhan harus diatasi nanti melalui pelonggaran kebijakan moneter disertai dengan kebijakan fiskal.

Ekonom sisi penawaran

Aliran pemikiran lainnya adalah untuk meningkatkan pasokan dalam ekonomi dengan mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi. Pengendalian harga pada energi (jika dimungkinkan), investasi pada efisiensi, dan subsidi produksi akan membantu mengurangi biaya dan meningkatkan penawaran agregat ekonomi. Hal ini menurunkan harga bagi konsumen, menstimulasi output ekonomi, dan mengurangi pengangguran.

Solusi pasar bebas

Beberapa ekonom meyakini bahwa solusi terbaik untuk stagflasi adalah menyerahkannya kepada pasar bebas. Permintaan dan penawaran pada akhirnya akan menyelesaikan masalah kenaikan harga karena konsumen tidak dapat membeli barang. Kenyataan ini akan menyebabkan penurunan permintaan dan penurunan inflasi. 

Pasar bebas juga akan mengalokasikan tenaga kerja dengan efisien dan mengurangi pengangguran. Namun, rencana ini memerlukan waktu beberapa tahun atau dekade agar dapat berhasil. Masyarakat akan hidup dalam kondisi tidak nyaman selama prosesnya. Seperti yang dikatakan Keynes, "dalam jangka panjang, kita semua akan mati".


Bagaimana pengaruh stagflasi terhadap pasar kripto?

Dampak persis dari stagflasi pada kripto sulit untuk didefinisikan sepenuhnya. Namun, kita bisa membuat beberapa asumsi dasar jika kita berasumsi bahwa kondisi pasar lainnya tetap sama.

Pertumbuhan minimal atau negatif

Ekonomi yang nyaris tidak tumbuh atau menyusut akan menyebabkan tingkat pendapatan yang stagnan atau bahkan berkurang. Dalam kasus ini, konsumen memiliki lebih sedikit uang untuk berinvestasi. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya pembelian kripto dan kenaikan penjualan karena investor ritel perlu mengakses uang untuk pengeluaran harian. Pertumbuhan ekonomi yang lambat atau negatif juga mendorong investor besar untuk mengurangi eksposur mereka terhadap aset berisiko tinggi, termasuk saham dan mata uang kripto.

Tindakan pemerintah melawan stagflasi

Biasanya, pemerintah akan berupaya mengendalikan inflasi terlebih dahulu, lalu menangani masalah pertumbuhan dan pengangguran nanti. Inflasi dapat dikendalikan dengan mengurangi pasokan uang. Salah satu metodenya adalah dengan meningkatkan suku bunga.

Tindakan ini mengurangi likuiditas, karena orang akan menyimpan uang mereka di bank. Pinjaman juga akan menjadi lebih mahal. Dengan kenaikan suku bunga, investasi dengan risiko tinggi dan pengembalian tinggi menjadi kurang menarik. Oleh karena itu, kripto dapat mengalami penurunan permintaan dan harga selama masa kenaikan suku bunga dan pasokan uang yang lebih rendah.

Setelah mengendalikan inflasi, pemerintah cenderung ingin menstimulasi pertumbuhan. Hal ini biasanya dilakukan melalui pelonggaran kuantitatif dan pengurangan suku bunga. Dalam skenario tersebut, pengaruh pada pasar kripto akan cenderung positif karena pasokan uang meningkat.

Kenaikan inflasi

Kebanyakan investor berpendapat bahwa Bitcoin dapat menjadi hedging yang baik terhadap laju inflasi yang meningkat. Jika inflasi tinggi, kekayaan Anda dalam fiat yang tidak menghasilkan bunga akan mengurangi nilai sebenarnya. Untuk menghindari ini, kebanyakan orang telah beralih ke Bitcoin untuk mempertahankan daya beli jangka panjang mereka dan bahkan meraih laba. Hal ini dikarenakan investor menilai BTC sebagai penyimpan nilai yang baik karena penerbitan dan pasokannya yang terbatas.

Secara historis, strategi hedging mungkin berhasil bagi investor yang mengakumulasi Bitcoin dan mata uang kripto lainnya selama bertahun-tahun. Khususnya, selama atau setelah periode inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Namun, menggunakan kripto sebagai hedging terhadap inflasi mungkin tidak efektif dalam jangka waktu pendek, khususnya selama masa stagflasi. Perlu diperhatikan juga bahwa terdapat faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan, seperti korelasi yang meningkat antara kripto dan pasar saham.


Stagflasi dalam krisis minyak tahun 1973

Pada tahun 1973, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) menyatakan embargo minyak pada sekelompok negara tertentu. Keputusan ini merupakan tanggapan terhadap dukungan bagi Israel dalam perang Yom Kippur. Dengan penurunan yang signifikan dalam pasokan minyak, harga minyak pun meningkat sehingga terjadi kekurangan rantai pasokan dan kenaikan harga konsumen. Hal ini menyebabkan kenaikan laju inflasi secara signifikan.

Di negara seperti AS dan Inggris, bank sentral memotong suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Suku bunga yang lebih rendah membuat pinjaman menjadi lebih murah dan mendorong orang untuk berbelanja daripada menabung. Namun, mekanisme umum untuk mengurangi inflasi adalah menaikkan suku bunga dan mendorong konsumen untuk menabung.

Karena biaya minyak dan energi menjadi bagian utama dari pengeluaran konsumen, sedangkan pemotongan suku bunga tidak menstimulasi pertumbuhan yang cukup, banyak ekonomi barat mengalami inflasi tinggi dan ekonomi yang stagnan.


Kesimpulan

Stagflasi menghadirkan situasi yang unik bagi para ekonom dan pembuat kebijakan, karena inflasi dan pertumbuhan negatif biasanya tidak muncul bersamaan. Alat untuk mengatasi stagnasi sering kali menyebabkan inflasi, sedangkan strategi untuk mengendalikan inflasi dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lambat atau negatif. Jadi, pada saat stagflasi, konteks makroekonomi dan beberapa faktornya perlu dipertimbangkan, seperti pasokan uang, suku bunga, permintaan dan penawaran, serta tingkat pengangguran.