Apa Itu Alokasi dan Diversifikasi Aset
Daftar Isi
Pendahuluan
Apa itu alokasi dan diversifikasi aset?
Teori Portofolio Modern
Jenis kelas aset dan strategi alokasi
Menerapkan alokasi dan diversifikasi aset ke dalam portofolio
Diversifikasi di dalam portofolio aset kripto
Permasalahan dalam alokasi aset
Penutup
Apa Itu Alokasi dan Diversifikasi Aset
BerandaArtikel
Apa Itu Alokasi dan Diversifikasi Aset

Apa Itu Alokasi dan Diversifikasi Aset

Pemula
Diterbitkan Jan 27, 2020Diperbarui Sep 6, 2022
6m

Pendahuluan

Uang selalu mengandung risiko. Setiap investasi dapat menimbulkan kerugian, tetapi menyimpan uang tunai saja akan membuat nilainya tergerus oleh inflasi. Meskipun tidak dapat dihilangkan, risiko dapat disesuaikan agar selaras dengan tujuan investasi tiap orang.

Alokasi aset dan diversifikasi adalah konsep yang berperan penting dalam menentukan parameter risiko. Meskipun baru mengenal investasi, Anda mungkin tidak asing dengan prinsip dasarnya karena sudah ada selama ribuan tahun. 

Artikel ini akan memberikan Anda pandangan mengenai apa dan bagaimana hubungan alokasi dan diversifikasi aset dengan strategi pengelolaan keuangan modern. 

Jika Anda ingin membaca selengkapnya mengenai topik yang serupa, baca Penjelasan mengenai Risiko Keuangan


Apa itu alokasi dan diversifikasi aset?

Alokasi dan diversifikasi aset sering dianggap dua istilah yang sama. Namun, keduanya memiliki aspek pengelolaan risiko yang sedikit berbeda. 

Alokasi aset dapat digunakan untuk menjelaskan strategi manajemen uang yang menguraikan bagaimana modal didistribusikan di antara kelas-kelas aset berbeda dalam sebuah portofolio investasi. Di sisi lain, diversifikasi menjelaskan alokasi modal dalam kelas-kelas aset tersebut. 

Tujuan utama dari strategi ini adalah memaksimalkan imbal hasil yang diharapkan sambil meminimalkan potensi risiko. Biasanya, hal ini mencakup penentuan jangka waktu investasi, toleransi risiko, dan pertimbangan kondisi ekonomi yang lebih luas. 

Sederhananya, konsep utama di balik strategi alokasi aset dan diversifikasi adalah untuk tidak memasukkan semua modal dalam satu aset. Menggabungkan kelas aset dan aset yang tidak saling berhubungan adalah cara yang paling efektif dalam membangun portofolio yang seimbang.

Yang membuat kedua strategi ini ampuh adalah risiko tidak hanya terbagi di antara kelas-kelas aset yang berbeda, tetapi juga di antara aset-aset berbeda dalam satu kelas. 

Beberapa ahli aset bahkan yakin bahwa penentuan strategi alokasi aset mungkin lebih penting daripada pemilihan jenis investasi sendiri. 


Teori Portofolio Modern

Teori Portofolio Modern/Modern Portfolio Theory (MPT) adalah kerangka kerja yang memformalkan prinsip-prinsip ini melalui model matematika. Teori ini diperkenalkan dalam sebuah makalah yang diterbitkan oleh Harry Markowitz pada tahun 1952, makalah yang kemudian mengantarkannya ke penghargaan Nobel di bidang Ekonomi.

Kategori aset utama cenderung memiliki pergerakan yang berbeda. Kondisi pasar yang membuat kelas aset tertentu memiliki kinerja baik mungkin membuat kelas aset lain memiliki kinerja buruk. Asumsi utamanya adalah jika satu kelas aset berkinerja buruk, kerugiannya dapat diimbangi oleh kelas aset lain yang berkinerja baik. 

MPT berasumsi bahwa penggabungan aset dari kelas-kelas aset yang tidak berhubungan akan mengurangi volatilitas portofolio. Hal ini akan meningkatkan kinerja dengan risiko yang disesuaikan. Artinya, portofolio dengan jumlah risiko yang sama akan menghasilkan pengembalian yang lebih baik. MPT juga berasumsi bahwa jika dua portofolio menawarkan pengembalian yang sama, maka investor yang rasional akan memilih portofolio dengan risiko yang lebih kecil. 

Singkatnya, MPT menyatakan bahwa ini adalah cara yang paling efisien dalam mengombinasikan aset-aset ke dalam sebuah portofolio yang tidak berhubungan satu sama lain.


Jenis kelas aset dan strategi alokasi

Dalam kerangka kerja alokasi aset, biasanya kelas aset dikategorikan sebagai berikut: 

  • Aset tradisional — saham, obligasi, dan uang tunai. 

  • Aset alternatif — real estat, komoditas, derivatif, produk asuransi, ekuitas privat, dan tentu saja aset kripto.

Pada umumnya, terdapat dua jenis utama strategi alokasi aset, keduanya menggunakan sejumlah asumsi yang diuraikan dalam MPT: Alokasi Aset Strategis dan Alokasi Aset Taktis. 

Alokasi Aset Strategis dianggap sebagai pendekatan tradisional yang lebih sesuai dengan gaya investasi pasif. Portofolio yang didasarkan pada strategi ini akan cenderung mengalami penyeimbangan ulang hanya ketika alokasi yang diinginkan berubah berdasarkan perubahan dalam jangka waktu atau profil risiko investor. 

Alokasi Aset Taktis lebih sesuai dengan gaya investasi yang lebih aktif. Strategi ini memungkinkan investor memfokuskan portofolio dalam aset yang mengungguli pasar. Strategi ini berasumsi bahwa jika sebuah sektor mengungguli pasar, sektor tersebut dapat terus unggul dalam jangka waktu yang panjang. Karena didasarkan juga pada prinsip yang diuraikan dalam MPT, strategi ini memungkinkan diversifikasi.

Perlu dicatat bahwa aset tidak harus sepenuhnya tidak berkorelasi atau berkorelasi terbalik agar diversifikasi tercapai. Yang dibutuhkan adalah keadaan di mana aset-aset ini tidak sepenuhnya berkorelasi. 


Menerapkan alokasi dan diversifikasi aset ke dalam portofolio

Mari kita lihat prinsip-prinsip ini melalui contoh portofolio. Sebuah portofolio dalam strategi alokasi aset memiliki alokasi berikut di antara kelas-kelas aset yang berbeda:

  • 40% investasi saham

  • 30% obligasi

  • 20% aset kripto

  • 10% uang tunai 

Strategi diversifikasi mungkin menentukan bahwa di antara 20% investasi di aset kripto: 

  • 70% sebaiknya dialokasikan ke Bitcoin

  • 15% ke kripto dengan kapitalisasi besar

  • 10% ke kripto dengan kapitalisasi sedang

  • 5% ke kripto dengan kapitalisasi kecil

Setelah alokasi ditetapkan, kinerja portofolio dapat dimonitor dan ditinjau secara teratur. Jika alokasi berubah, mungkin saatnya untuk melakukan penyeimbangan ulang. Artinya, membeli dan menjual aset untuk menyesuaikan kembali portofolio ke proporsi yang diinginkan. Hal ini biasanya mencakup penjualan aset yang berkinerja baik dan pembelian aset yang berkinerja buruk. Tentu saja, pemilihan aset bergantung sepenuhnya pada strategi dan tujuan investasi individu. 

Aset kripto termasuk sebagai salah satu kelas aset yang paling berisiko. Portofolio ini mungkin dianggap sangat berisiko, karena ada porsi cukup besar yang dialokasikan ke aset kripto. Investor yang lebih menghindari risiko sebaiknya mengalokasikan sebagian besar portofolio ke kelas aset yang tidak begitu berisiko, misalnya obligasi. 

Jika Anda ingin membaca laporan penelitian mendalam mengenai manfaat Bitcoin dalam portofolio multiaset terdiversifikasi, baca laporan oleh Binance Research ini: Seri Manajemen Portofolio #1 - Menjelajahi manfaat diversifikasi dengan Bitcoin.


Diversifikasi di dalam portofolio aset kripto

Meskipun prinsip di balik metode-metode ini berlaku pada portofolio aset kripto secara teori, kita harus tetap bersikap hati-hati. Pasar mata uang kripto sangat berkaitan dengan pergerakan harga Bitcoin. Hal ini membuat diversifikasi tidak masuk akal. Bagaimana bisa seseorang mendapatkan sekumpulan aset yang tidak berkorelasi dari sekumpulan aset yang sangat berkorelasi?

Terkadang, altcoin tertentu dapat menunjukkan korelasi yang rendah dengan Bitcoin. Pedagang yang memperhatikan hal ini dapat memanfaatkannya. Namun, hal ini biasanya tidak dapat diterapkan sekonsisten strategi serupa dalam pasar tradisional. 

Kita dapat berasumsi bahwa begitu pasar matang, pendekatan yang lebih sistematis untuk diversifikasi akan dapat diterapkan dalam portofolio aset kripto. Namun, jalan masih panjang sebelum hal ini tercapai.


Permasalahan dalam alokasi aset

Walaupun ini merupakan tenik yang ampuh, beberapa strategi alokasi aset mungkin tidak cocok diterapkan pada investor dan portofolio tertentu. 

Membuat rencana adalah hal mudah, tetapi kunci strategi alokasi aset yang baik terletak di implementasi. Jika investor tidak dapat mengesampingkan bias mereka, portofolio mereka tidak akan seefektif yang diinginkan. 

Potensi masalah lainnya muncul karena kesulitan dalam memperkirakan toleransi risiko investor. Ketika imbal hasil mulai terlihat setelah periode tertentu, investor mungkin menyadari bahwa dia menginginkan risiko yang lebih rendah (atau bahkan lebih tinggi). 


Penutup

Alokasi dan diversifikasi aset adalah konsep pengelolaan risiko dasar yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Keduanya juga merupakan konsep inti di balik strategi pengelolaan portofolio modern. 

Tujuan utama penyusunan strategi alokasi aset adalah memaksimalkan pendapatan yang diharapkan sambil meminimalkan risiko. Mendistribusikan risiko antar kelas aset dapat meningkatkan efisiensi portofolio.

Karena pasar sangat berkorelasi dengan Bitcoin, strategi alokasi aset sebaiknya diterapkan dengan sangat hati-hati terhadap portofolio aset kripto.