Apa Itu Permissioned dan Permissionless Blockchain?
Beranda
Artikel
Apa Itu Permissioned dan Permissionless Blockchain?

Apa Itu Permissioned dan Permissionless Blockchain?

Tingkat Menengah
Diterbitkan Feb 20, 2023Diperbarui Jun 22, 2023
6m

Ringkasan

Permissionless blockchain terbuka untuk digunakan oleh siapa pun. Anda bahkan dapat berpartisipasi dalam mekanisme konsensusnya selama memenuhi persyaratan tertentu. Bitcoin, Ethereum, dan BNB Chain adalah contoh permissionless blockchain yang umumnya bersifat transparan dan terdesentralisasi.

Sebaliknya, permissioned blockchain mewajibkan undangan untuk bergabung. Blockchain ini biasanya digunakan dalam lingkungan bisnis privat dan disesuaikan untuk kegunaan tertentu. Kekuatan terbatas pada sekelompok kecil validator yang mengambil sebagian besar keputusan jaringan. Transparansi mungkin terbatas, tetapi waktu peningkatan dan skalabilitas jaringan sering kali meningkat pesat.

Pendahuluan

Pernahkah Anda mempertimbangkan jenis blockchain yang digunakan lebih dari sekadar proof-of-work (PoW) versus proof-of-stake (PoS)? Setiap blockchain sebenarnya dapat dianggap bersifat permissioned atau permissionless. Memahami kedua kategori ini dapat membantu Anda mempelajari selengkapnya tentang karakteristik sebuah blockchain dan fleksibilitasnya.  

Apa Itu Permissioned dan Permissionless Blockchain?

Ada lebih dari satu jenis blockchain. Salah satu perbedaan yang paling signifikan adalah apakah sebuah blockchain bersifat permissioned atau permissionless. Anda mungkin sudah familier dengan jenis permissionless yang memungkinkan siapa pun menggunakan dan menjalankannya. Siapa pun juga dapat menggunakan jaringan dan ikut serta dalam proses validasi. Bitcoin, BNB Chain, dan Ethereum adalah contoh dari permissionless blockchain.

Permissioned blockchain mewajibkan peserta diberikan izin untuk berpartisipasi. Blockchain ini biasanya digunakan dalam lingkungan privat, seperti di dalam sebuah organisasi atau bisnis. Misalnya, perusahaan dapat menggunakan kerangka kerja blockchain Hyperledger Fabric guna membuat permissioned blockchain untuk sistem rantai pasokannya. Apabila Anda ingin berpartisipasi dalam jaringan tersebut, seorang admin harus memberikan akses kepada Anda secara spesifik.

Sejarah Singkat dan Latar Belakang

Teknologi blockchain berasal dari whitepaper Blockchain buatan Satoshi Nakamoto. Teknologi yang disajikan dalam whitepaper tersebut adalah permissionless blockchain. Di dalamnya, pengguna yang tidak selaras mencapai konsensus. Tren permissionless ini telah berlanjut seiring model Bitcoin memengaruhi beberapa generasi blockchain. Nilai dan etos Bitcoin serta turunannya sesuai untuk permissionless blockchain publik.

Karakteristik Blockchain juga terbukti menarik untuk penerapan privat. Kekekalan, transparansi (dalam beberapa aspek), dan keamanannya telah memunculkan keinginan untuk blockchain yang menawarkan pengalaman dengan sifat lebih permissioned. 

Untuk memenuhi keinginan ini, para pengembang blockchain telah membuat kerangka kerja permissioned atau blockchain khusus untuk digunakan oleh pihak ketiga. Seperti yang sudah disebutkan, Hyperledger Fabric adalah salah satu contoh kerangka kerja tersebut. Quorum, MultiChain, dan Ethereum Geth juga menyediakan struktur privat untuk kebutuhan perusahaan.

Karakteristik Utama

Karakteristik berikut tidak selalu berlaku untuk setiap permissioned atau permissionless blockchain. Namun, Anda umumnya akan mendapati bahwa sebagian besar darinya sesuai dengan model yang disajikan.


Permissioned

Permissionless 

Transparansi

Terbatas 

Buka

Pengguna

Diundang

Bebas bergabung

Aset digital / token

Langka

Umum

Proses konsensus peningkatan

Short

Panjang

Skalabilitas

Mudah dikelola

Sering kali menantang

Otoritas jaringan

Terdesentralisasi

Pro dan Kontra

Permissionless blockchain: Manfaat

  1. Potensi desentralisasi. Tidak semua permissionless blockchain bersifat terdesentralisasi, tetapi blockchain ini biasanya berpotensi menjadi sangat terdesentralisasi. Siapa pun dapat berpartisipasi dalam mekanisme konsensus atau menggunakan jaringan permissionless apabila dia ingin dan memiliki sumber daya untuk melakukannya.

  2. Konsensus kelompok. Pengguna dapat berpartisipasi secara aktif dan memutuskan perubahan jaringan. Validator dan pengguna jaringan juga dapat melakukan voting. Perubahan yang tidak populer akan berujung pada versi hasil forking dari sebuah jaringan.

  3. Kemudahan akses. Siapa pun dapat membuat dompet dan bergabung dengan sebuah jaringan permissionless karena jaringan ini mudah diakses dan memiliki hambatan masuk yang relatif rendah.

Permissionless blockchain: Kelemahan

  1. Tantangan skalabilitas.Permissionless blockchain harus menangani basis pengguna yang besar dan volume lalu lintas yang tinggi. Peningkatan jaringan untuk meningkatkan skalabilitas harus melalui konsensus kelompok agar dapat diimplementasikan secara efektif.

  2. Pelaku kejahatan. Karena siapa pun dapat bergabung dengan permissionless blockchain, selalu ada risiko pelaku kejahatan pada jaringan tersebut.

  3. Transparansi yang berlebihan. Sebagian besar informasi pada permissionless blockchain dapat dilihat siapa pun dengan bebas, sehingga menimbulkan potensi masalah privasi dan keamanan.

Permissioned blockchain: Manfaat

  1. Skalabilitas. Permissioned blockchain biasanya dijalankan oleh sebuah entitas dengan tingkat kontrol tertentu atas validator. Oleh karena itu, peningkatan dapat diimplementasikan dengan cukup mudah.

  2. Kustomisasi yang mudah. Permissioned blockchain dapat dibangun untuk tujuan spesifik, sehingga menjadikannya efisien pada fungsi tertentu. Apabila diperlukan perubahan, blockchain dapat dikustomisasi dengan mudah.

  3. Tingkat transparansi yang terkendali. Seorang operator permissioned blockchain dapat menentukan tingkat transparansi yang sesuai untuk jaringan tergantung pada kegunaannya.

  4. Entri khusus undangan. Anda dapat mengontrol pengguna yang bisa dan tidak bisa berpartisipasi dalam blockchain.

Permissioned blockchain: Kelemahan

  1. Sentralisasi. Kekuatan cenderung dikendalikan oleh entitas sentral atau sekelompok kecil validator yang dipilih oleh pemilik blockchain. Artinya, keputusan jaringan mungkin tidak akan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

  2. Rentan terhadap serangan. Permissioned blockchain biasanya memiliki validator yang lebih sedikit, sehingga mekanisme konsensusnya lebih rentan terhadap serangan.

  3. Risiko penyensoran. Kolusi atau pembaruan jaringan yang dihadirkan oleh operator blockchain memunculkan risiko penyensoran. Apabila terdapat cukup pelaku kejahatan yang setuju untuk melakukannya, informasi pada blockchain tersebut dapat diubah.

Apakah Saya Sebaiknya Menggunakan Permissioned atau Permissionless Blockchain?

Jawaban terhadap pertanyaan ini cukup mudah. Jika Anda ingin membuat layanan terbuka bagi semua orang, Anda memerlukan permissionless blockchain. Namun, memiliki permissionless blockchain bukan berarti bahwa Anda harus mengikuti serangkaian prinsip dan tujuan standarnya. Bahkan, chain Anda dapat bersifat tersentralisasi dan permissionless secara bersamaan. Anda juga dapat memberikan tingkat privasi yang lebih tinggi, jika diinginkan.

Jika Anda ingin menggunakan blockchain dalam lingkungan privat, seperti bisnis atau pemerintah, maka permissioned blockchain akan lebih sesuai. Sekali lagi, blockchain Anda tidak harus mengikuti karakteristik yang biasanya dikaitkan dengan permissioned blockchain. Blockchain tersebut dapat sepenuhnya bersifat transparan dan dapat dilihat oleh publik.

Penutup

Meskipun Anda kemungkinan hanya akan menemui permissionless blockchain sebagai investor atau pedagang kripto, memahami perbedaannya dengan permissioned blockchain adalah hal yang berguna. Memiliki pandangan tunggal dari teknologi buku besar terdistribusi (DLT) yang sesuai dengan model kripto yang bersifat transparan, publik, dan terdesentralisasi memang mudah. Namun, parameter tersebut dapat berubah. Bahkan, kebanyakan perusahaan swasta menggunakan permissioned blockchain yang tidak sesuai dengan karakteristik konvensional dari blockchain tersebut.

Bacaan Lebih Lanjut