Penjelasan mengenai Mining Pool
HomeArticles

Penjelasan mengenai Mining Pool

Tingkat Menengah
4d ago
6m

Daftar isi


Pengantar

Penambangan, atau sering juga disebut mining, merupakan bagian tak terpisahkan dari blockchain Proof of Work. Dengan menghitung hash menggunakan properti tertentu, para peserta dapat mengamankan jaringan mata uang kripto tanpa membutuhkan otoritas pusat.

Ketika Bitcoin pertama kali diluncurkan pada tahun 2009, siapa pun dengan PC biasa dapat bersaing dengan penambang lain untuk menebak hash yang valid dalam blok berikutnya. Relatif mudah, karena tingkat kesulitan penambangannya masih rendah. Tidak terdapat banyak hash rate di jaringan, sehingga Anda tidak membutuhkan perangkat keras khusus untuk menambahkan blok baru ke blockchain.

Sangat masuk akal bahwa komputer yang dapat menghitung hash paling banyak per detik akan menemukan lebih banyak blok. Ini menyebabkan perubahan besar dalam ekosistem. Para penambang terlibat dalam persaingan besar saat mereka berjuang untuk mendapatkan keunggulan kompetitif.

Setelah beralih melalui berbagai jenis perangkat keras (CPU, GPU, FPGA), penambang Bitcoin akhirnya nyaman dengan ASIC – Application-Specific Integrated Circuit. Perangkat penambangan ini tidak memungkinkan Anda untuk membuka Binance Academy atau mengirimkan tweet gambar kucing. 

Seperti namanya, ASIC dibangun untuk mengerjakan satu tugas: menghitung hash. Namun, karena didesain khusus untuk tujuan tersebut, ASIC berkinerja sangat baik. Jadi, sejak itu, menggunakan perangkat keras jenis lain untuk menambang Bitcoin sudah tidak populer lagi.


Apa itu mining pool?

Hanya ini yang dapat dilakukan perangkat keras yang baik. Anda bisa menjalankan beberapa ASIC bertenaga tinggi, namun Anda hanyalah setetes dari lautan penambangan Bitcoin. Kemungkinan benar-benar menambang blok cukup tipis, meskipun Anda telah menghabiskan banyak uang untuk perangkat keras dan listrik untuk menjalankannya.

Anda tidak memiliki garansi kapan Anda akan dibayar dengan reward blok, atau bahkan mungkin Anda tidak akan dibayar sama sekali. Jika mencari penghasilan tetap, tampaknya Anda akan lebih beruntung dengan mining pool. 

Katakan saja Anda dan sembilan peserta lainnya masing-masing memiliki 0,1% dari total kekuatan hashing jaringan. Berarti, secara rata-rata, Anda akan berharap menemukan satu dalam seribu blok. Dengan perkiraan 144 blok ditambang sehari, Anda mungkin akan menemukan satu blok dalam seminggu. Tergantung pada arus kas dan investasi Anda ke perangkat keras dan listrik, pendekatan “solo mining” ini bisa menjadi strategi yang layak.

Namun, bagaimana jika pendapatan ini tidak cukup untuk menghasilkan laba? Well, Anda bisa bergabung dengan sembilan peserta lain yang kita bahas di atas. Jika semua menggabungkan kekuatan hashing, Anda akan memiliki 1% dari hash rate jaringan. Berarti Anda akan menemukan rata-rata satu dalam seratus blok, yang juga berarti satu atau dua blok sehari. Setelahnya, Anda tinggal membagi reward di antara semua penambang yang terlibat.

Kita baru saja menggambarkan mining pool secara singkat. Metode ini banyak digunakan saat ini karena menjamin aliran pendapatan yang lebih stabil kepada para anggotanya.


Bagaimana cara kerja mining pool?

Umumnya, mining pool memiliki koordinator yang bertugas mengatur penambang. Memastikan para penambang menggunakan nilai nonce yang berbeda, sehingga mereka tidak menyia-nyiakan kekuatan hash dengan mencoba membuat blok yang sama. Koordinator ini juga akan bertanggung jawab dalam membagi reward kepada para peserta. Ada beberapa metode berbeda yang digunakan untuk menghitung pekerjaan yang dilakukan oleh masing-masing penambang dan memberikan reward yang sesuai.


Mining pool Pay-Per-Share (PPS)

Skema pembayaran yang lebih umum adalah Pay-Per-Share (PPS). Dalam sistem ini, Anda akan menerima jumlah yang tetap untuk setiap “andil” yang Anda berikan. 

Andil atau share merupakan hash yang digunakan untuk menandai pekerjaan masing-masing penambang. Jumlah pembayaran masing-masing share bersifat nominal, tetapi akan bertambah seiring waktu. Harap dicatat bahwa share bukanlah hash yang valid di dalam jaringan, ini hanya digunakan untuk mencocokkan kondisi yang diatur oleh mining pool.

Dalam PPS, reward akan diberikan kepada Anda tanpa melihat apakah pool menemukan blok atau tidak. Operator pool menanggung risiko ini, jadi, barangkali mereka akan mengenakan biaya yang lumayan tinggi, yang harus Anda bayar dimuka, atau nanti dipotong dari reward blok.


Mining pool Pay-Per-Last-N-Shares (PPLNS)

Skema populer lainnya, Pay-Per-Last-N-Shares (PPLNS). Berbeda dengan PPS, PPLNS hanya memberi reward kepada penambang jika pool berhasil menambang blok. Ketika pool menemukan blok, jumlah N terakhir dari share yang dikirimkan akan diperiksa (N bervariasi tergantung pada pool). Untuk mendapatkan pembayaran, jumlah share yang Anda kirimkan dibagi N, lalu hasilnya dikalikan dengan reward blok (dikurangi biaya operator).

Contohnya, jika reward blok saat ini 12,5 BTC (dengan asumsi tidak ada biaya transaksi) dan biaya operator 20%, maka reward yang tersedia untuk penambang sebesar 10 BTC. Jika N: 1.000.000 dan Anda memberikan 50.000 shares, maka Anda akan menerima 5% dari reward yang tersedia (atau 0,5 BTC).

Kedua skema inilah yang paling sering Anda dengar, walaupun Anda dapat menemukan beberapa variasi dari keduanya. Sementara kita berbicara mengenai Bitcoin, perlu dicatat bahwa sebagian besar mata uang kripto PoW yang populer lainnya juga memiliki mining pool. Contohnya Zcash, Monero, Grin, dan Ravencoin. 



Anda ingin memiliki mata uang kripto? Beli Bitcoin di Binance!



Apakah mining pool menghambat desentralisasi?

Alarm bahaya barangkali menyala di kepala Anda saat membaca artikel ini. Bukankah selama ini Bitcoin begitu kuat karena tidak ada entitas tunggal yang mengendalikan blockchain? Apa yang terjadi jika ada pihak yang mendapatkan mayoritas kekuatan hashing?

Pertanyaan bagus. Jika satu pihak memperoleh 51% dari kekuatan hash jaringan, serangan 51% dapat diluncurkan. Jika ini terjadi, mereka dapat menyensor transaksi dan membalikkan transaksi lama. Serangan seperti ini dapat menyebabkan kerusakan besar pada ekosistem mata uang kripto.

Apakah mining pool menimbulkan risiko serangan 51%? Jawabannya: bisa jadi, namun kemungkinan besar tidak.


Rincian hash rate 24 jam berdasarkan pool

Rincian hash rate 24 jam berdasarkan pool pada tanggal 16 April 2020. Sumber: coindance.com


Secara teori, empat pool teratas bisa berkolusi untuk membajak jaringan. Tapi ini sungguh tidak masuk akal. Bahkan kalaupun mereka berhasil melakukan serangan, harga Bitcoin mungkin akan anjlok karena tindakan tersebut akan merusak sistem. Akibatnya, koin yang mereka peroleh akan kehilangan nilainya. 

Terlebih lagi, pool tidak memiliki peralatan penambangan. Para peserta mengarahkan mesin ke server koordinator, tetapi mereka bebas untuk berpindah ke pool lain. Ini demi kepentingan terbaik para peserta dan operator pool untuk menjaga agar ekosistem tetap terdesentralisasi. Lagi pula, mereka hanya dapat menghasilkan uang jika penambangan tetap menguntungkan.

Pernah terjadi di mana satu pool berkembang mencapai ukuran yang mengkhawatirkan. Biasanya, pool tersebut (dan penambangnya) akan mengambil langkah-langkah untuk mengurangi hash rate.


Penutup

Lingkungan penambangan mata uang kripto berubah selamanya dengan diperkenalkannya mining pool pertama. Metode penambangan ini dapat sangat bermanfaat bagi para penambang yang ingin mendapatkan pembayaran yang lebih konsisten. Dengan jenis-jenis skema yang tersedia, mereka pasti akan menemukan satu yang paling sesuai dengan kebutuhan.

Idealnya, penambangan Bitcoin sangat terdesentralisasi. Namun untuk saat ini, mungkin kata yang cocok adalah “cukup terdesentralisasi”. Dalam keadaan apa pun, tidak ada pihak yang diuntungkan dari pool yang mendapatkan mayoritas hash rate dalam jangka panjang. Justru peserta kemungkinan akan mencegahnya terjadi – lagipula, Bitcoin tidak dijalankan oleh para penambang, tetapi para pengguna.